Suara Tim Privateer Di Balik Politik Juara Nasional

Mirza Putra Utama (Asco Motorsport)

JAKARTA – Melihat kisruh yang terjadi dalam perebutan Juara Nasional ITCR Max 2019, ada dampak negatif yang dirasakan oleh tim lain. Seperti kita ketahui bahwa dalam Kejurnas ITCR Max, tidak hanya kubu Toyota Team Indonesia dan Honda Racing Indonesia, tetapi ada beberapa tim lain yang juga ikut dalam persaingan pada kejuaraan tersebut.

Sebagai salah satu tim yang ikut bersaing, Mirza Putra Utama (ASCO Motorsport), sempat mendapat dampak negatif dari kekisruhan tersebut. Mirza memang masih memiliki benang merah dengan tim pabrikan Toyota melalui Anton Hudijana, sebagai chief engineering. Sedikit banyak, set up yang diberikan untuk mobil Mirza, mengambil kiblat dari mobil-mobil juara Toyota Team Indonesia.

Oleh karena itu, saat Haridarma Manoppo divonis diskualifikasi, nama Mirza Putra Utama (Asco Motorsport) dan Abraham Nadeak (Smart Racing) juga terseret dalam pusaran tersebut. Pasalnya, intake manifold yang divonis tidak sesuai juga terpasang pada mobil Toyota Yaris milik Mirza Putra Utama dan Toyota Vios milik Abraham.

Melihat hal tersebut, Ari Utama, orang tua dari Mirza, ikut berkomentar terkait fenomena tersebut. Pada dasarnya, ia ikut balap untuk menyalurkan hobi anaknya yang sedari dini sudah nyemplung di dunia motorsport. Sebelum balap touring, Mirza lebih dulu mengenyam kursi balap gokart.

“Ya kalau kita sih dampaknya ada juga. Tapi kita kan bisa pilih-pilih, mau balap di mana aja. Balap ini kan hobi, di Indonesia banyak kelas, di luar negeri juga ada. Kalau balap di Indonesia ada kisruh, kita juga bisa balap di luar kan. Ya sebenarnya saya tidak mau ikutan ramenya, kita kan balap hobi, ya seru-seruan aja dan yang penting bisa balap untuk menyalurkan hobi,” buka Ari Utama.

Mirza Putra Utama (Asco Motorsport)

Meski demikian, Ari Utama, juga menyesali adanya kisruh yang tejadi. Menurutnya, secara sportifitas seyogyanya semua tim berperang melalui secara teknis, bukan justru ada unsur politiknya. Mengingat dalam balapan ada regulasi yang menjadi pegangan, setidaknya hal tersebut bisa menjadi penengah dan pedoman regulator dalam mengambil keputusan.

“Saya berpesan saja, kita berkompetisi secara teknis. Secara teknis kan macam-macam di dalamnya, serta skill atau kemampuan juga berpengaruh, bukan politik. Nanti kalau politik tidak ada habisnya, (pihak) Yang kalah ambil jalan ini, terus yang ini ngelawan lagi. Mending juga kita fight diteknis dan skill. Kalau seperti ini susah, jadi sudah ada ego tidak mau kalah dan maunya menang terus,” tambahnya.

Di samping itu, timbulnya kisruh tersebut juga dikarenakan adanya regulasi yang berada di grey area. Artinya, masih ada ambang keraguan untuk melakukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Namun, Ari menjelaskan sikap ksatria Mirza yang harus menerima lantaran poin keseluruhannya hilang. Tapi, Mirza tetap happy dan terus melanjutkan balapan sampai akhir musim.

“Kalau tadi balapnya kita bukan sportifitas dari teknis dan skill, bisa siapa aja kena nantinya. Karena nanti kan ada aja orang yang mencari-cari kesalahan terus dan enggak akan ada habisnya. Kecuali regulasinya bisa matang dan pelaksananya bisa paham sekali tentang regulasinya, mulai dari bawah sampai ke atas. Kalau seperti ini masih banyak grey areanya. Makanya Mirza kena diskualifikasi, tetap happy aja,” pungkasnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *