Resep Arce Meyer untuk Kemenangan Double Winner HTJRT

Adrian Septianto raih double winner di Kejurnas Slalom 2019

JAKARTA – Di penghujung musim balap Kejurnas Gymkhana 2019, peslalom HTJRT, Adrian Septianto, berhasil mengukir keberhasilan. Ia sukses mengawinkan dua gelar bergengsi sebagai Juara Nasional Kelas A (standar) dan B (gerak roda belakang) di musim 2019.

Pencapaian tersebut tentu bukan perkara mudah, mengingat banyak pesaing yang juga mengincar kemenangan tersebut. Namun, di mata penanggung jawab tim dan tuner, Arce Meyer, Adrian Septianto memiliki kelas yang patut diperhitungkan. Mulai dari gaya mengendarai mobil sampai mencari celah dari lawan yang bisa dimanfaatkan menjadi keunggulan bagi dirinya.

Usai balapan di Bekasi, Jawa Barat, akhir pekan lalu (26/10), Arce Meyer, mengatakan sejatinya di awal musim ia telah menargetkan untuk bisa menyabet triple winner, yakni Juara Nasional Kelas A (standar), B (gerak roda belakang) dan F (modifikasi).

“Saya punya target untuk tim ini meraih triple winner, alhasil dari seri satu itu harusnya bisa berhasil karena tiga kelas ini saya yakin bisa menang. Walaupun saya enggak punya beban ke team owner, tapi saya sebagai orang yang dipercaya untuk mengurus tim, targetnya adalah triple winner. Performa Adrian memang seharusnya sudah selevel dengan peslalom papan atas di Indonesia, asumsinya adalah target utamanya Adrian harus mengawinkan gelar,” buka Arce Meyer.

Arce Meyer, Penanggung Jawab sekaligus Tuner Tim HTJRT

Selain itu, jika bicara mengenai kemampuannya, Adrian memang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Bahkan, Arce menyebutkan level Adrian Septianto saat ini berada satu kelas dengan peslalom hebat di Tanah Air, seperti Anjasara Wahyu, Demas Agil dan Dika CH.

“Jadi memang kalau secara skill, dia memang aneh sendiri dan beda sendiri. Bukan dari settingan mobil, tapi karakter dia yang bikin beda. Mulai dari heat pertama, kedua sampai heat final, Adrian selalu gaspol. Dia punya rencana bahwa ketika fastest, maka dia bisa melihat celah lawan karena ia akan memulai start paling belakang,” bebernya.

Bagi Arce, salah satu kunci keberhasilan anak asuhnya merajai dua kelas tersebut adalah kedisiplinan yang selalu dijaga. Arce percaya bahwa ketika disiplin telah ditegakkan, maka fokus peslalom untuk bertanding akan menemui performa yang maksimal.

“Kunci utamanya adalah kedekatan dengan peslalom, ada kala kita bercanda untuk menjaga guyub di tim. Saya juga memberlakukan peraturan, seperti jam malam agar mereka bisa beristirahat dengan cukup, pengumpulan handphone sebelum balapan, untuk menjaga konsentrasi supaya tidak terganggu dengan macam-macam hal seperti Whatsapp, atau bermain game,” tambahnya.

Sementara dari settingan mobil, Arce tidak melulu mengabulkan keinginan setiap anak asuhnya. Pria yang masih memiliki darah Belanda ini, mengatakan setiap settingan mobil selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat. Hal ini dia terapkan agar setiap anak asuhnya, mampu memaksimalkan settingan yang ada.

“Settingan mobil saya ambil suara terbanyak. Contoh, di Jazz untuk Kelas A, ada Adrian sama Ildo dan A.S Dewi, ketika Adrian dan Ildo sudah bilang enak settingannya, maka itu yang kita pakai. Begitu pula di kelas B, Adrian dan Ricky, mereka masing-masing punya keinginan, tapi saya ambil jalan tengah untuk settingan mobil,” jelas Arce.

Dengan segala strategi matang, baik dari kesiapan mobil serta mental peslalom, Arce terbilang sukses untuk mencapai target yang ia canangkan di awal musim. Dua dari tiga kelas bergengsi, berhasil diboyong dan dipersembahkan untuk pemilik tim HTJRT.

You may also like...

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *