Nasib Juara Avan Abdullah Digantung Promotor HJSC

JAKARTA – Avan Abdullah, pembalap Bank BJB Delta Garage yang bertarung di Kejuaraan Honda Jazz Speed Challenge (HJSC) kelas Master, harus menunda selebrasi kemenangannya di penghujung musim balap 2019.

Kisruh yang terjadi dalam balap mobil Indonesia, kembali terjadi. Sama seperti halnya kisruh yang terjadi di Kejuaraan Nasional Indonesia Touring Car Race (ITCR) Max, tetapi kejuaraan lain yang juga diselenggarakan di Sirkuit Sentul, Honda Jazz Speed Challenge (HJSC), mulai menumbuhkan benih politik yang begitu kuat.

Pasalnya, Avan Abdullah, pembalap yang seharusnya sudah mengantongi gelar Juara Umum HJSC 2019, masih menunggu kepastian dari promotor kejuaraan tersebut. Saat dimintai keterangan tentang kisruh tersebut, Avan, menjelaskan secara panjang lebar mengenai apa yang membuatnya gusar dan gelisah dengan polemik tersebut.

Jika berdasarkan hitungan poin yang dikeluarkan oleh Honda, Avan setelah putaran keenam lalu menjadi pembalap teratas yang memimpin klasemen. Bahkan, siaran pers terkait keberhasilan Avan Abdullah tersebut juga disiarkan melalui tim public relation external Honda.

Semangat untuk melakukan selebrasi tersebut akhirnya luntur saat seri pamungkas yang dilangsungkan di BSD, Tangerang, pada 1 Desember 2019. Saat itu, Avan dipanggil menghadap promotor dan Racing Director HJSC satu jam sebelum balap.

“Tiba-tiba Hari Minggu, satu jam sebelum balap gue dipanggil oleh Racing Director Honda dan Anondo Eko. Gue enggak tau kenapa dipanggil, begitu gue datang, mereka bilang bahwa pemotongan poin Zharfan yang kemarin nabrak di seri enam, enggak bisa kita potong dulu (poinnya). Karena posisinya harus ada persetujuan dari Ikatan Motor Indonesia (IMI). Padahal Honda sudah ngeluarin standing poin resmi. Tapi mereka bilang (pemotongan poin), itu belum pasti dan saya diminta untuk balapan saja semaksimal mungkin. Setelah balapan selesai, selebrasi tetap ada, dan Zharfan yang menjadi pembalap kesatu,” beber Avan kepada saya melalui sambungan telepon.

Secara regulasi, sudah seharusnya Avan bisa mendapatkan predikat Juara Umum, tapi sayang sampai saat ini hal tersebut tak kunjung terjadi. Promotor terus berkilah dengan mengulur waktu bahwa keputusan tersebut belum bisa disiarkan.

Sebagai pihak yang dirugikan, Avan merasa kecewa atas sikap promotor yang kurang sportif. Padahal, balapan yang dilakoni Avan, bukan untuk dirinya pribadi, tetapi ada peran sponsor di belakangnya yang meletakkan brandnya di mobil balapnya.

“HJSC ini kan club event, dan dia punya peraturan sendiri yang sudah didaftarkan ke IMI dari sebelum event (balap) itu dimulai . Akhirnya saya cari tahu bahwa yang sudah didaftarkan Honda, adalah pemotongan 15 poin, yang pemotongan 25 poin baru didaftarkan di pertengahan tahun. Kalau yang didaftarkan pengurangan 15 poin, kenapa harus ada selebrasi. Mau dipotong 25 poin atau 15 poin, tetep aja gue yang juara,” tambahnya.

Bukan hanya perkara peraturan yang abu-abu, tetapi promotor sekelas Honda Racing yang sudah belasan tahun menyelenggarakan balap, haruskah bertindak seperti ini? Padahal, kredibilitas yang sudah dibangun sejak belasan tahun, haruskah ternodai lantaran insiden pemotongan poin tidak bisa dilakukan.

Kegelisahan Avan terkait hal ini bukan karena persoalan personal antara ia dengan pembalap Zharfan Rahmadi, tetapi yang menjadi pertanyaan besar Avan adalah sikap dan kedewasaan promotor. Secara personal Avan mengaku tidak pernah ada masalah dengan Zharfan, baik di dalam dan luar lintasan.

“Kita tanya hasilnya gimana, siapa yang juara umum, masih belum dikasih jawaban. Waktu itu katanya satu minggu setelah balap, tapi belum ada jawaban, sampai IMI selesai rakernas, juga belum ada jawaban apa-apa. Tapi kalau sampai Zharfan yang ditetapkan sebagai juara, gue kan ngikutin tim, dan pasti ada langkah-langkah yang akan diambil,” ucap Avan dipenghujung pembicaraannya.

You may also like...

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *