Fenoma Pembalap Baru, ETCC Indonesia Sudah Sesuai Prosedur

JAKARTA – Kehadiran pembalap baru di ajang balap nasional, memang menjadi barometer keberhasilan sebuah promotor. Ketika banyak pembalap yang berpartisipasi, secara tidak langsung ajang balap tersebut sudah dikatakan berhasil lantaran menarik banyak peserta.

Namun di balik keberhasilan tersebut, pada ajang balap Indonesia Sentul Series of Motorsport (ISSOM), setidaknya sudah ada insiden yang melibatkan antara pembalap baru dan pembalap lama yang tengah bertarung untuk merebut poin.

Hal ini dialami oleh tim balap Pertamax Turbo GRT, saat sesi kualifikasi digelar pada putaran keempat, pembalap mereka, Romy Tahrizi tidak bisa berbuat banyak pada waktu yang telah disediakan. Pasalnya, ketika sesi tersebut pembalap baru yang turun di ajang European Touring Car Championship (ETCC) Indonesia, pembalap baru tersebut mengalami insiden sehingga membuat marshall mengibarkan bendera merah yang artinya sesi harus dihentikan sementara.

“Ada pembalap baru yang ikutan, tapi dia melintir saat kualifikasi. Dengan waktu yang tidak banyak, terpaksa kita tidak bisa mendapatkan sesi yang bagus untuk meneruskan balapan,” ujar Kepala Mekanik Pertamax Turbo GRT, beberapa waktu lalu.

Melihat fenomena tersebut, Andre Dumais, selaku founder dari ETCC Indonesia, akhirnya angkat bicara. Menurut Andre, hal tersebut memang sebuah hal yang wajar, dan berpengaruh pada jam terbang. Tapi pihaknya sudah melakukan prosedur yang tepat ketika ada pembalap baru yang ingin bergabung pada gelaran balap mobil Eropa tersebut.

“Jadi pembalap ini sebelum dibolehkan balap, kita melakukan semacam evaluasi terlebih dahulu tentang penguasaan teori. Kedua, saat di lapangan (track), bawa mobilnya seperti apa, apakah dia pernah latihan dan sudah dilatih oleh pembalap atau instruktur yang otoritas. Masalah yang terjadi kemarin, itu adalah resiko balap. Namanya juga jam terbang, ada juga resiko,” jelas Andre.

Andre Dumais // Founder ETCC Indonesia

Pada saat balap pun, pembalap baru tersebut tidak bisa mengimbangi laju mobil balap yang lainnya. Sehingga kondisi tersebut cukup membuat kesulitan bagi pembalap yang berada di belakangnya. Untuk melakukan overtake, tidak bisa sembarangan langsung tancap gas dan melampaui. Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan faktor yang mendukung.

Pria yang akrab disapa Dume, juga berdalih ketika ada pembalap baru yang melaju sangat pelan di antara seluruh peserta balap, itu sudah menjadi kewenangan dari Clerk of Course (CoC) alias pemimpin perlombaan. Sejatinya, ketika hal tersebut sudah dirasa merugikan, pimpinan perlombaan bisa mengambil sikap dengan mengibarkan bendera hitam yang menandakan pembalap tersebut harus masuk pit dan tidak bisa melanjutkan balapan.

“Nah, cuma kembali lagi ETCC sebagai penyelenggara tidak sendiri, kita berada di bawah naungan ISSOM. ISSOM yang harus melakukan hal teknis tersebut. Harusnya kalau sudah seperti itu, diberikan black flag (bendera hitam) karena sudah terlalu pelan mobilnya. Sering terjadi, dan ini ranahnya CoC, saya sebagai promotor ETCC Indonesia sudah melakukan ketentuan yang berlaku,” beber pria yang akrab disapa Dume ini.

Terlepas dari itu, sudah sepatutnya bagi setiap pembalap baru memang harus mematuhi dan mengerti seperti apa ‘tata krama’ saat berada di dalam lintasan balap. Mereka juga harus berperan aktif untuk mencari tahu mengenai isyarat bendera yang dikibarkan marshall.

Selanjutnya, pembalap baru juga memiliki kapabilitas yang mumpuni untuk mengendalikan mobil balapnya. Sejatinya, setiap pembalap yang ingin memiliki Kartu Izin Start (KIS), mereka harus mendapatkan surat rekomendasi dari pembalap atau instruktur bahwa mereka memang layak dapat KIS.

Bukan seperti ingin memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dengan cara ‘nembak’. Tentunya akan ada kerugian di kemudian hari.

You may also like...

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *