Antara Kepentingan IMI dan Menjunjung Regulasi

JAKARTA – Banyak selentingan kabar di luar yang mengatakan bahwa protes terkait keputusan Ikatan Motor Indonesia (IMI) untuk memenangkan Toyota Team Indonesia. Ternyata bukan hal itu yang menjadi sasaran oleh beberapa orang yang menyayangkan keputusan IMI.

Bukan perkara siapa yang menjadi Juara Nasional ITCR Max 2019, tetapi lebih kepada cara yang ditempuh untuk menjadi Juara Nasional. Bahkan, seperti dikutip dari mobilinanews,com, Memet Djumhana, sebagai Presiden Toyota Team Indonesia, akhirnya buka suara terkait keputusan IMI yang dilakukan saat injury time.

“Silakan kalau juara ITCR Max mau diambil, tapi tolong lakukan dengan prosedur yang benar dan sesuai peraturan. Jangan kasar begini,” ujar Memet Djumhana, dilansir dari mobilinanews.com.

Sosok Memet Djumhana bisa dikatakan sebagai pelaku motorsport yang jarang berkomentar, namun dengan terjadinya keputusan IMI yang dinilai janggal, ia merasa bahwa ini akan berbahaya untuk kelangsungan motorsport Tanah Air.

Kembali pada persoalan putusan IMI. Sejatinya, memang ada salah satu hal vital yang dilanggar oleh mereka untuk menerbitkan SK terbaru yang dikeluarkan pekan lalu. Selain dinilai tidak memegang teguh sportifitas, sisi lain yang disayangkan adalah indikasi keterlibatan pihak lain yang ingin menggugurkan kemenangan yang diraih oleh Haridarma Manoppo.

Lagi-lagi, ini bukan perkara berpihak pada Toyota Team Indonesia. Meski gelombang kekecewaan begitu besar, namun tetap saja, apa yang telah dikeluarkan oleh IMI melalui SURAT KEPUTUSAN KETUA UMUM IKATAN MOTOR INDONESIA PUSAT Nomor: 251/IMI/SK- KU/XII/2019 tidak akan ditarik lagi.

Setelah kejadian ini, apakah mereka masih akan percaya dengan kredibilitas dan independensi IMI sebagai regulator balap di Tanah Air? Bukan tidak mungkin ada beberapa kalangan yang kecewa atas sikap IMI tersebut. Bukan kepada organisasi, tetapi kepada pihak yang ingin mencapai tujuan tertentu melalui kekuasaan IMI yang paling tinggi di dunia balap Tanah Air.

Kenapa IMI sampai menerbitkan kembali SK tersebut dan menganulir SK Team Panel Banding? Bukankah SK Team Panel Banding bersifat mengikat dan final? Atau memang Team Panel Banding dibuat hanya untuk menambah kesan dramatis?

 

You may also like...

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *